Masalah Selera

Menurut kalian selera setiap orang bisa diubah gak?

Menurut gue sih enggak. Kenapa?

Gue contohnya gak pernah suka sama yang namanya ikan mau jenis apapun itu, ada sih yang gue suka tapi biasanya yang mahal bok. *dikepruk* Even semua orang bilang ikan itu enak, bergizi, lezat gue pasti lebih memilih untuk makan….. mie instan.😛

Nyokap gue beda lagi, dia gak begitu suka sama pizza dan segala jenis pasta makanya mau lo sodorin pizza merk apapun kek di lidahnya tetep aja gak enak. Padahal gue udah promosi abis-abisan bilang bahwa pizza itu enak, pasta pun juga enak apalagi kalo mama mau masakin soalnya GUA SUKA GAK RELA DEH MAKAN PASTA MAHAL-MAHAL DI RESTORAN PADAHAL AKIKUK TAU ITU BIKINNYA GAMPIL BANGET! Sayang…. Gue musuhan sama dapur, lebih tepatnya segala macem bumbu musuhan sama tangan gue. Ini kenapa jadi curhat malih?! Hahaha.

Bokap gue beda lagi dong… dia tuh paling anti yang namanya makan telor balado. Kenapa eh kenapa? Karena katanya telor balado tuh bumbunya gak meresap sampe ke dalem alias bumbunya di luar aja kan begitu dibelah dalemnya masih putih. Kata bokap gue nih ya kalo disuruh makan telor balado mah mending gak usah dikasih bumbu aja sekalian, toh telor balado sama telor rebus biasa kalo dibelah juga sama aja, sama-sama masih putih. AUAHAHAHAHAHA. Bener juga sih dipikir-pikir tapi kan rasanya beda maliiiiih….😆😆😆

Dari contoh yang simple di atas aja gue udah yakin banget bahwa selera itu gak akan pernah bisa diubah. Selera itu kan datengnya dari dalam diri ya, mau orang ngomong apa kek kalo kita suka ya udah kita bakalan suka dan sebaliknya kalo kita udah kekeuh gak suka mau orang promo habis-habisan juga ogah kita nyentuh. Ya gak? Makanya yang namanya selera tuh menurut gue gak ada yang namanya “Selera gue lebih keren loh….” soalnya ini menyangkut sama kenyamanan diri sendokir sik. Ya gak? Iya aja deh lu semua soalnya kalopun lu bilang enggak gue sih tetep kekeuh sama pendirian gue. Hahaha.

Sama halnya dengan orientasi seksual.

stock-photo-various-sexual-orientations-three-different-icons-set-raster-version-175223420

www.shutterstock.com

Gue sih gak setuju sama pemikiran Fahira Idris bahwa buku yang menyisipkan materi LGBT itu bisa mempengaruhi pola pikir anak kemudian mengubah orientasi seksual anak tersebut.

Kenapa?

Gay itu bukan masalah lo mau menjadi atau tidak loh tapi masalahnya adalah lo mau mengakui atau gak. Maka dari itu pertanyaan seperti “Kenapa sih lo menjadi gay?” itu gak akan pernah ada jawabannya karena kalau mau bertanya mungkin akan lebih tepat jika “Dari kapan sih lo mulai berani jujur sama diri lo sendiri dan orang-orang sekeliling kalo lo gay?”.

BunWKAsCYAAMIsE

 

Fahira Idris

Orientasi seksual itu masalah preferensi buat gue bukan masalah ini baik dan ini tidak. Kalo Uni Fahira Idris bilang bahwa dia sangat menghargai kaum LGBT namun melarang peredaran buku Why Puberty, apa enggak aneh? Gue akan setuju dengan tindakan Fahira Idris jika di buku tersebut berisikan kalimat atau gambar yang menunjukkan sebuah aktivitas hubungan seksual misalnya. Nyatanya, buku tersebut dilarang beredar lagi karena terdapat sebuah kalimat “Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai, dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan. Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis”.

Bu9CfpRCUAAfSsW

Gue sih menangkapnya adalah si penulis ingin mengatakan bahwa kalau memang orientasi seksual adalah sebuah pilihan, semua orang juga pasti mau kok mencintai lawan jenis. Kenapa? Karena mengakui diri lo sendiri adalah Gay bukan sebuah hal yang mudah. Lo harus pura-pura tuli ketika orang mencemooh lo “Bencong” “Maho” “Lesbi”, dkk. Lo harus kerja keras 100 kali lipat untuk sukses karena ketika lo terlihat gagal, orang-orang akan mengaitkannya dengan orentasi seksual lo seperti “Ah pantesan aja dia gagal, dipecat dari kantornya. Dia kan bencong. Siapa yang mau mempekerjakan bencong di kantor?” See? Siapa tuh yang mau memilih? Gue rasa gak ada kalau memang benar Gay itu adalah sebuah pilihan.

Dari kalimat yang dianggap cukup kontroversial itu menurut gue penulis tidak bertujuan untuk mempengaruhi anak-anak menjadi kaum LGBT (dan memang tidak bisa juga). Tulisan seperti itu hanya ingin memberikan pesan kepada anak-anak/remaja bahwa sedari dini lo musti menghargai setiap manusia termasuk orientasi seksualnya. Bukan karena orientasi seksualnya berbeda dengan lo, lo bisa seenak jidat mencemooh. Karena ada sebuah riset yang mengatakan bahwa kebanyakan kaum LGBT menderita/mengalami stress saat masih duduk di bangku SMP/SMA.

Kenapa?

Semua orang di sekolah menjauhi bahkan menyakiti mereka (menghina, memukul, mendorong, menendang, dkk) ketika tahu orientasi seksual mereka. Oleh karena itu banyak sekali remaja yang akhirnya memutuskan bunuh diri karena lingkungan tidak bisa menerima mereka dengan baik. Padahal kalau kalian mau aja berpikir lebih terbuka, lo straight kemudian dia gay lantas kerugian apa yang lo harus tanggung sehingga lo berpikir berhak untuk menyakiti mereka?

Kemanusiaan. Satu hal yang belum dimiliki oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Semua orang biasanya mengaitkan masalah ini dengan agama dan Tuhan kemudian mengatakan “Ini dosa” “Ini masuk neraka” “Ini bukan yang dikehendaki Tuhan”. Orang yang menyakiti sesama manusia dengan mengaitkan Agama dan Tuhan menurut gue belum paham betul konsep Agama dan Tuhan. Mereka takut dengan Agama dan Tuhan padahal seharusnya mereka Cinta dengan Agama dan Tuhan. Gue yakin kalau mereka cinta dengan Agama dan Tuhan, mereka tidak akan mau menyakiti sesama manusia karena mereka seharusnya sadar bahwa seluruh manusia diciptakan Tuhan. Ibu kita saja marah kalau anaknya dipukul anak lain, masa iya Tuhan tidak marah jika ciptaannya yang agung dan mulia disakiti oleh ciptaannya yang lain?🙂

Monica Krisna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s