Pandai Bersyukur

Salah satu hal yang selalu terselip di setiap doa gue adalah supaya Tuhan selalu mengingatkan gue untuk bersyukur. Sebenarnya gue dulu rada bingung kalo bersyukur itu beda-beda tipis dong sama cepat puas? The truth is….. bersyukur dan rasa cepat puas itu sangat berbeda.

Bersyukur adalah ketika sudah berusaha dan melihat hasil yang ada, di dalam hati lo mengucap rasa syukur dan percaya bahwa lo bisa lebih baik lagi di kedepannya dengan terus berdoa, belajar, dan berusaha. Sedangkan rasa cepat puas cenderung menganggap hasil yang lo punya adalah sudah paling baik dan berhenti untuk berdoa, belajar, dan berusaha.

Contoh, paling simple adalah indeks prestasi dan nilai-nilai ujian gue selama kuliah. Indeks prestasi gue di semester 1 dan 2 berkisar di angka 3.5, di situ gue sangat bersyukur. Gue tau kok temen-temen gue (apalagi yang sering main di kelas ya) jauh lebih, lebih, dan lebih besar indeks prestasinya dibanding gue tapi mengetahui hal itu tidak sama sekali membuat gue iri apalagi punya tekad seperti “Gue harus ngalahin nilai X nanti!”

NO! BIG NO NO!

Kenapa?

Karena tolak ukur yang selalu gue pakai ya diri gue sendiri bukan orang lain. 3,5 itu hasil gue kerja keras selama satu semester. Sering begadang, belajar sampe otak kayanya kalo di buka syarafnya pasti keriting semua, yaddayadda yadda. Di sini gue bisa bersyukur karena berpikir “Ya Tuhan. Gak percuma ya gue kemarin begini begitu begono hasilnya segini…” Lain cerita kalo gue memakai orang lain sebagai tolak ukur. Gak bakal ada rasa puas karena ketika misalnya lo mendapatkan 3.5 dan melihat teman lo mendapatkan indeks prestasi 3,7, lo pasti diam-diam dalam hati akan menggumam “Ah…. gue kalah dari dia! Gue cuma 3,5 sedangkan dia bisa 3,7” Secara tidak langsung walaupun terlihatnya Β kompetitif, menurut gue sikap seperti ini justru cenderung “undervalue” diri kita sendiri. Mengecilkan usaha-usaha yang kita sudah lakukan semaksimal mungkin.

Ya mungkin emang ada orang-orang yang bisa termotivasi dengan memiliki pola pikir seperti itu tetapi kalo dia udah berhasil mengalahkan kompetitornya, siapa lagi yang bakal jadi motivasinya? Gak ada. Gue yakin setelah itu orang tersebut bakal leha-leha, santai, angkat dagu 10 cm sampe mentok ke langit-langit, ujung-ujungnya “jatuh”.

Akan lebih baik mempunyai pola pikir yang “Oke sekarang gue dapat 3.5, kedepannya goal gue adalah bisa dapat 3.6”. Kenapa? Ya kalo lo membanding-bandingkan diri dengan orang lain terus menerus maka goal kehidupan lo bergantung sama kompetitor lo dong? Kapan bersyukurnya malih? Goal di kehidupan kan ada supaya manusia bisa berkembang dan memperbaiki diri dengan mengejar apa yang mereka inginkan bukan untuk “mengalahkan” orang lain. Ya kan?

Gara-gara punya pola pikir bahwa tolak ukur gue adalah diri gue sendiri, gue jadinya….

… tiap kali ada yang bilang gue jomblo. Gue ketawa ajah! Kenapa? Ya emang sih gue gak punya gebetan apalagi pacar tapi gue juga gak pernah merasa hidup gue “sepi” tuh karena gue punya banyak teman-teman yang selalu bikin gue happy setiap hari. Sekarang udah happy dengan teman-teman, kenapa gue harus merasa merana hanya karena gue gak punya pacar? Gue sih menganggap setiap orang “berkat”-nya beda-beda yah. Ada yang punya pacar tapi kehidupan sosialnya macet, ada yang kehidupan sosialnya lancar jaya tapi kehidupan percintaannya gersang. Ya kan? Jadi, bersyukur aja sama berkat yang kita punya #asikπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

… kalo melihat teman gue atau orang-orang sekeliling gue punya barang ini itu ana ono lala yang jauh lebih banyak/bagus gak gampang iri apalagi sampe yang kaya mikir “Gue juga harus punya!”. No, gue bukan orang seperti itu! Temen-temen gue pake aifun 6/6s yang mana harganya sama kaya bayaran satu semester di Binus sedangkan gue cuma pake handphone yang harganya kayanya sih 1/4 nya doang dehπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Gue iri gak? Enggak. Buat apa? Soalnya pola pikir gue “At least gue ada handphone yang bisa ini itu mencukupi kebutuhan anak kuliah deh…” bukan ke “Ahhhhh dese hits amat pake aifun, gue gak boleh kalah hits lah dari dese!”πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

That’s why mau orang update apa di social media gue jarang banget “terpengaruh”. Dia senang dengan segala macam kehidupannya yang dia update di social media misalnya fancy dinner di xxx atau di yyy, yasudah. Gue di sini juga mempunyai kesenangan sendiri yang tentunya berbeda misal bisa beli buku baru tiap bulan (Hahahaha!!!!) atau ngopi-ngopi cantik sama temen gue di tempat ngopi sejengkal dari rumah. See? Orang lain memiliki hal yang gak lo miliki bukan berarti hidup lo “kurang”, ini semua cuma masalah pandai-pandai kita bersyukur aja.πŸ™‚

Selamat hari Sabtu! Semoga hari ini bisa membawa kebahagiaan!πŸ™‚

Monica Krisna

One thought on “Pandai Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s