Kehidupan Itu Adil

Semua orang merasa hidup itu gak adil, jadinya adil toh sebenernya? Hihihihi.

Karena sekarang lagi marak (((MARAK))) pemberitaan tentang LGBT maka gue memakai contoh yang berhubungan dengan LGBT ya. Lagian gue sesuai-in juga kali sama target pembaca blog ini. Maksudnya, target pembaca gue tuh yang selalu update dengan apa yang sedang terjadi di luar sana. Gitu lohπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Sebut aja namanya A. A ini dari SMA udah ngerasa kalo dia Gay dan entah kenapa walaupun sampai sekarang belum berani coming out ke orang tuanya, ia udah coming out ke seluruh teman-temannya. Si A selalu bilang β€œGue udah gak pernah terbebani apalagi salah tingkah kalo orang tanya gue lagi naksir siapa! Gue bebas sebut nama bahkan tunjuk orang yang gue suka tanpa berpura-pura” Semua teman-temannya menerima dengan lapang dada. Apa itu cacian hujatan apalagi ceramah bawa-bawa ayat kitab suci? Gak ada.

Alih-alih merasa dijauhi oleh lingkungan sekitar seperti yang banyak orang rasakan di luar sana, si A malah justru merasa semenjak ia coming out teman dia jauh lebih banyak. Tapi, dia selalu teriak-teriak β€œEh gilak yah! Gue nih dah coming out kok masih single aja sik? Liat tuh si A, B, C mereka kan masih discreet tapi gonta ganti pacar. Masa kalah sik sama mereka?” AuahahahahaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Lain dengan A, ada B yang selalu bilang β€œAduh gue gak mungkin lah bilang sama temen-temen straight gue, orientasi seksual gue apa. Mereka bisa langsung menjauh!!! Atau justru lebih parah mereka sebarin ke seluruh penjuru. Kalo nyokap bokap gue denger gimana?!” bahkan di otak si B ia merasa di umur sekian sekian ketika nyokap bokapnya bertanya atau nyuruh dia cepetan kewong, ia akan kewong. Yang tau orientasi seksual dia hanya segelintir orang tapi……. jangan ditanya. Pacarnya gonta ganti. Heran gak sih lo? Ngakunya yang tau beberapa tapi mah kegiatan menjaring lancar parah!!!!!!πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Ketika ditanya β€œKenapa lo gak come out sih? Lo kan udah meletek dari SMA!” Dia selalu bilang sama A dan temen-temen lain yang udah come out juga β€œYa lo enak…. Lingkungan lo mendukung! Lingkungan β€˜kreatif’ yang mana hal-hal kaya gitu udah gak begitu dipeduliin. Udah biasa lah. Lha lingkungan gue? Bisa-bisa awkward dan gue dijauhin karena lo tau lah…. di otak mereka ini penyakit yang menular. Gue juga tertekan karena belom come out tapi gimana ya? Gue juga belom siap kalo mikirin konsekuensinya.”

See?

Udah come out. Happy haha hihi sama temen-temennya tapi gak punya pacar padahal hampir seluruh temennya dah punya buntut loh. Ujung-ujungnya pas lagi ngopi-ngopi cantik, diana dateng sendiri padahal semua sama buntutnya. Sekali, okay. Berpuluh-puluh kali? Mulai berpikir β€œGue mending jalan sama yang single juga ah!!!!β€πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Udah punya pacar tapi come outnya cuma berani ke segelintir orang karena lingkungan gak mendukung. Merasa punya kewajiban untuk menikah supaya membahagikan orang tuanya. Punya pacar tapi selalu ngaku single di depan orang banyak. Enak gak tuh?

Semua orang punya tantangan kehidupannya masing-masing. Makanya gue suka heran sama orang-orang yang liat orang begini begitu begono langsung ngomong β€œAduh. Envy gilakkkk. Hidup dia perfect” karena kenyataannya mana ada yang sempurna sik di dunia ini. Kalopun emang ada toh ujung-ujungnya kita tau beberapa aspek pasti fakeπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Masih berani bilang hidup ini gak adil?

Monica Krisna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s