Apresiasi

agency_social_environment

blog.filestage.io

Semua orang di dunia ini tidak terkecuali gue, butuh sekali diapreasiasi. Nggak bikin kita teriak-teriak “Nyettttt, plissss dong puji gue!” juga sih tapi nggak memungkiri setiap kali kita dipuji atau diberi credit pasti senyum mengembang di bibir dan tentunya bunga-bunga mulai bertebar di hati. Ya kan?

Apresiasi kadang juga nggak datang dalam bentuk pujian. Bisa juga dalam bentuk ucapan terima kasih ketika kita mencoba untuk membantu mereka. Bisa juga dalam bentuk tidak merusak karya-karya seniman di Galeri Nasional hanya demi sebuah selfie. Btw, gue pernah menegur teman yang memegang sebuah karya di lorong kampus padahal sudah ada tulisan larangan untuk menyentuh. Dan apa yang gue dapatkan? Temen gue ngomong “Megang doang kok, gak bakal rusak juga” WHAT?!?!?! Yasudahlah, biarkan saja dia dan mentalnya yang ignorant, yang penting gue nggak ketularan. Hahahaha.

Lain orang, lain caranya. Seperti yang selalu Mama (re:supervisor) gue lakukan di kantor.

Bukan mau ‘ngejilat’ pantatnya dia karena gue juga yakin dia nggak tau blog ini dan kalaupun tahu dia nggak akan baca juga, gue yakin.😀 Tapi, selama ini gue selalu merasa Mama gue mengapresiasi kerjaan gue.

Dia nggak pernah ngotak-atik tulisan gue sedikitpun paling kalo ada typo doang atau emang harus ditambahin hashtag. Selain itu ya udah benar-benar pure tulisan gue. Kalopun emang salah, dilempar lagi ke gue suruh revisi. Gue jadi bisa melihat progress tulisan gue bagaimana. Gue jadi bisa melihat dengan jelas, kalo gue nulis seperti ini likes dan commentnya segini, kalo gue nulisnya segitu likes dan commentnya segitu. So… gue tau apa yang sudah gue lakukan dengan benar dan apa yang masih harus diperbaiki lagi.

Dia juga selalu bilang thank you di saat itu bukan kewajiban dia untuk berkata seperti itu. Tapi, tahu nggak efeknya apa? Gue selalu merasa dihargai sekecil apapun yang gue udah lakukan. Tiap kali supervisor gue minta kerjain apapun, gue nggak pernah ngeluh walaupun menurut gue susah dan kerjainnya sampe bikin muka gue kenceng. Gue nggak pernah ngerasa males masuk kantor dan kalaupun gue nggak masuk gue izin dulu sama dia itupun karena emang gue ngerasa badan gue udah menunjukkan tanda-tanda mau sakit bukan karena males ketemu dia.

Gue udah ada di titik menyadari bahwa gue nggak bakat-bakat amat menulis dan setiap kali gue ngerasa salah mengambil posisi saat magang, gue selalu inget supervisor gue di kantor yang begitu sabar dan selalu mengapresiasi gue. Ya nggak bikin mendadak dapet ide-ide yang cemerlang juga sih tapi paling enggak semangat yang udah kendor balik lagi lah ke semula.😛

Semoga, gue bisa seperti supervisor gue yang selalu mengapresiasi setiap pekerjaan orang di sekitarnya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s